Kisah Prajurit TNI Yang Alami Kebutaan Saat Melaksanakan Tugas Negara


Koranmiliter - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI digelar setiap tahun nya tepat pada tanggal 5 oktober. Di usia TNI yang ke 74 Tahun, ternyata menyimpan banyak pengorbanan dari prajurit tangguh TNI.

Bagi setiap prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus selalu siap dengan tugas yang diberikan negara. Begitu juga dengan setiap resiko yang ada. Seperti nasib malang yang harus dialami prajurit muda TNI yang satu ini. Seorang prajurit TNI buta saat bertugas.

Prajurit TNI itu harus merelakan penglihatan yang ia miliki. Ia adalah Pratu Gilang Al Fajar. Pratu Gilang harus merelakan kehilangan penglihatan pada saat bertugas.

Pratu Gilang Al Fajar mengalami kebutaan di kedua matanya akibat debu erupsi Gunung Sinabung pada saat bertugas membantu korban bencana alam erupsi Gunung Sinabung pada 2014.

Pratu Gilang Al Fajar merupakan prajurit Tamtama Kodam I/BB yang kini bertugas di Babinminvetcaddam I/BB.

Kronologi Kejadian

Kejadian bermula pada tahun 2013. Saat itu, Pratu Gilang Al Fajar ditempatkan di Karo selama kurang lebih 2 bulan bertugas sebagai personel bantuan evakuasi letusan erupsi Gunung Sinabung .

Kemudian pada Desember 2014, Pratu Gilang Al Fajar  kembali ditugaskan untuk membantu membangun perumahan di Desa Siosar.

Namun kejadian nahas itu terjadi tepat pada hari ketujuh saat Pratu Gilang Al Fajar bertugas di Desa Saosir.

"Hari ketujuh di Desa Siosar tepatnya di puncak (ketinggian) 2000, saya membawa material ke puncak 2005 dengan mobil hardtop.

"Saat itu posisi saya berdiri berada di bak mobil, untuk menjaga material agar tidak jatuh," jelas Gilang dilansir dari Tribun Medan.

Tepat pada saat itu Gunung Sinabung kembali mengalami erupsi dan mengeluarkan banyak debu.

"Mata saya pun tersambar debu dan banyak terhirup juga oleh saya. Seketika mata saya terasa sangat perih, tenggorokan dan dada saya terasa panas."

"Saya ingin membersihkan dengan air, namun di posisi saat itu tidak ada air. Saat itu saya masih bisa melihat walaupun mata saya masih terasa perih," ujar Gilang.

Pada malam harinya, Pratu Gilang Al Fajar mulai mengalami demam tinggi dan Kondisi tubuhnya semakin lemas, hingga akhirnya Pratu Gilang dievakuasi ke Rumah Sakit Putri Hijau Medan.

Saat menjalani perawatan, Pratu Gilang sempat tak sadarkan diri, dan ketika bangun Gilang merasa tubuhnya lumpuh.

"Setelah saya sadar, saya sudah lumpuh, tidak bisa berbicara dan tidak bisa melihat. Dokter pun memvonis saya keracunan debu vulkanik yang menyerang ke seluruh syaraf saya," ungkap Gilang.

Segala upaya untuk mengembalikan penglihatan Pratu Gilang pun sudah dilakukan bahkan sampai membawanya berobat ke Kuala Lumpur, Malaysia. Namun, tak membuahkan hasil.

Kehilangan Penglihatan Tak Membuat Pratu Gilang Berhenti Berprestasi


Meski harus mengalami kehilangan penglihatan, Pratu Gilang tetap berprestasi dan tak patah semangat.

Kemudian, tepat pada Selasa (1/10/2019) kemarin, Gilang menerima kenaikan pangkat yang semula berpangkat prada naik satu tingkat menjadi Prajurit Satu (Pratu)

Saat ini, Pratu Gilang tergabung dalam atletik National Paralympic Commite (NPC) Sumatera Utara dari Cabang olahraga tolak peluru putra dan lempar lembing putra.

Pada kegiatan Pekan Paralympic Provinsi Sumut tahun 2019 yang diselenggarakan pada tanggal 1 sd 3 Mei 2019 lalu, Pratu Gilang Al Fajar berhasil meraih prestasi Juara II pada cabang olahraga tolak peluru putra dan lempar lembing putra.

Pratu Gilang Al Fajar saat ini masih megikuti Training Centre (TC) di Club National Paralympic Committe (NPC) Sumatera Utara guna persiapan mengikuti pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XVI 2020 Papua mewakili Kontingen Provinsi Sumut. (Sbp)

Mari bergabung bersama kami di Instagram.

Post a Comment

0 Comments