Mengapa Baret Korps Marinir Berwarna Ungu?


Koranmiliter - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) merupakan salah satu matra angkatan perang dimiliki TNI.  TNI Angkatan Laut bertugas menjaga kedaulatan dan pertahanan Negara Republik Indonesia di laut.

TNI Angkatan Laut dibentuk pada tanggal 10 September 1945. Salah satu Komando Tempur Utama yang dimiliki TNI AL adalah Korps Marinir.

Alasan Mengapa Baret Korps Marinir Berwarna Ungu

Korps Marinir memiliki slogan "Jalesu Bhumyamca Jayamahe" yang artinya "Di Laut dan Darat Kita Jaya" dengan baret ungu sebagai ciri khas yang dimilikinya.

Awal mulanya dibentuk, Marinir lahir dengan nama Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) pada tanggal 15 Nopember 1945. Pada masa itu, Korps Marinir merupakan komponen terbesar yang dimiliki TNI Angkatan Laut.

Dalam perkembangannya, Korps Marinir selalu terlibat dalam berbagai operasi tempur dan operasi kemanusiaan yang diadakan oleh TNI AL.

Namun tahukah anda, mengapa salah satu kesatuan elite tertua di Indonesia itu memilih ungu sebagai warna baretnya?

Menurut buku Korps Komando AL, Dipilihnya warna ungu dalam penggunaan baret Korps Marinir disebabkan oleh dua hal.

Pertama, warna ungu merupakan salah satu warna selendang Nyai Roro Kidul. Dalam mitologi Jawa, Nyai Roro Kidul merupakan penguasa samudera Indonesia. Selendang ungu milik Sang Ratu Pantai Selatan itu dipercaya sangat ampuh dalam memberikan perlindungan dan pengamanan.

Kedua, warna ungu pada baret Korps Marinir juga diilhami dari warna bunga Bougenville yang telah gugur sebelum layu.

“Ini juga melambangkan pengabdian seorang prajurit Korps Marinir dalam mempertahankan dan memelihara keutuhan negara,” dikutip dari Bagian Sejarah KKO-AL itu.

Pada tahun 1958, Warna ungu digunakan oleh Korps Marinir hanya berupa pita sebagai kode pengaman untuk melaksanakan operasi pendaratan di Padang, Sumatera Barat dalam rangka Operasi 17 Agustus 1961.

Kemudian, untuk pertama kalinya warna ungu pada baret Korps Marinir dipergunakan oleh Batalyon-1 KKO-AL dalam Operasi Alugoro di Aceh. Selanjutnya baret tersebut dilengkapi emblem dengan berbentuk segi lima merah berlambang topi baja Romawi dan dua pedang bersilang di tengahnya. (Sbp)

Post a Comment

1 Comments

  1. Cuma mau tanya... Apakah.. Apabila.. Jikalau.. Memang kebijakan yg diambil pemerintah menyengsarakan, merugikan rakyat.. Bahkan tdk masuk akal.. Lalu rakyat mendemo utk meluapkan kekesalannya.. Demo karena tidak tau bagaimanalagi menyadarkan para petinggi,.... Lantas... Apakah TNI tetap bersama rakyat, membela kebutuhan rakyat, dan bersama mengayomi rakyat demi menjaga keutuhan NKRI? Atau tetap mengahalau para rakyat yg berdemo untuk melindungi para penguasa?

    Siapa lagi yg bisa mencegah kesewenang2an hukum, jika mereka yg berkuasa tidak lagi memperdulikan suara rakyat?? Bahkan sampai segini pecahnya aksi yg diadakan oleh para mahasiswa..
    Sedih.... keporakporandaan pemikiran yg melandasi RUU hingga menyulut banyak pihak sampai terjadi bentrokan, korban jiwa..
    Menyedihkan.. Jika aparat sampai menggunakan senjatanya utk rakyat yg menodong keadilan hanya dengan tangan kosong.........

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan bijak dan benar sesuai dengan topik artikel yang dibahas!