Benarkah Enzo Terpapar Isu Radikalisme? Ini Penjelasan Lengkap TNI

Koranmiliter — Enzo Zenz Ellie Taruna Akademi Militer keturunan Prancis kembali menjadi pembincangan netizen. Sebelum nya, sosok Enzo Viral lantaran sempat berbincang dengan Marsekal Hadi dengan bahasa Prancis di Sidang Terpusat Pantukhir Calon Taruna Akademi Militer.


Saat ini Enzo kembali menjadi perbincangan publik lantaran seorang relawan Presiden Jokowi menyebut Enzo terpapar radikalisme. Bahkan, relawan Jokowi itu memposting sebuah foto Enzo untuk menguatkan argumen nya.

Tak hanya Enzo, ibunda Enzo juga ramai diperbincangkan, lantaran diduga terpapar organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia.

Semua argumen tersebut bermula saat netizen melihat akun facebook Enzo yang memposting sebuah foto dengan latar Enzo membawa bendera hitam dengan kalimat Tauhid. 

Lalu, benarkah Enzo Terpapar Isu Radikalisme atau hanya sebagai pendukung Prabowo di Pilpres 2019? Lantas bagaimana respon dari TNI?

Inilah Penjelasan Lengkap TNI

Penjelasan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI

TNI dengan cepat merespon kabar viral bahwa Benarkah Enzo Terpapar HTI. Menurut Kapuspen TNI, instansinya memiliki sistem seleksi mental ideologi. Mulai dari tes tertulis, wawancara, hingga penelusuran akun media sosial milik calon taruna akmil. 

Sistem itu, sudah dari dulu dibakukan,” terang Sisriadi,  Kepala Pusat Penerangan TNI.

Menurut Sisriadi, proses rekrutmen TNI sangatlah selektif, bahkan kini mencakup penelusuran akun media sosial milik para calon taruna Akmil. Tak hanya itu, dalam uji psikotes pun dapat diukur sejauh mana tingkatan ekstrem ideologi seseorang.

Kita buktikan dulu dia terpapar atau tidak. Nanti kita dalami. Andaikata iya, ya kita berikan perhatian khusus. Kita kan punya sistem deradikalisasi. Jadi banyak jalan,” jelas Sisriadi.

Seperti pada saat penerimaan Prabowo Subianto menjadi taruna Akmil misalnya, kala itu Indonesia sangat anti terhadap Amerika.

Pak Prabowo waktu masuk TNI kan dia tidak bisa bahasa Indonesia, bisa patah-patah. Wong sekolahnya dari kecil sampai SMA di Amerika kan. Zaman itu kita anti Amerika juga kan. Tapi, enggak ada masalah,” tutur Sisriadi memaparkan.

TNI Memiliki sistem ketat untuk menyaring.

Potensi paham ekstrem dapat dengan mudah dicegah. Hal ini diketahui dengan hasil psikotes di hasil kepribadiannya. Jadi tak hanya untuk Enzo tetapi juga seluruh peserta didik di TNI. persoalan pemeriksaan paham-paham radikalisme ini memang terus dilakukan. 

Pemeriksaan itu dilakukan secara simultan untuk menghindari kemunculan paham kiri maupun kanan di luar ideologi Pancasila dalam diri calon peserta didik. Bahkan penelusuran ideologi itu terus dilakukan selama mereka mengikuti pendidikan.

Selama masa pendidikan tiga bulan pun seluruh taruna akan menjalani pelatihan yang dapat membuatnya bersih dari berbagai pola pikir.

Dia akan jadi nol lagi. Menjadi manusia biasa, bukan dengan segala ininya, mungkin bahasanya yang dia ahli itu bisa lupa itu,” Jelas Kapuspen TNI, Mayjen TNI Sisriadi.

TNI sudah memiliki Standar Operasi Prosedur (SOP)

Tahap satu sampai tahap empat semua akan diawasi. Tidak hanya Enzo tapi berlaku semua calon taruna secara prosuder sesuai SOP. Pengawasan yang dimaksud berlangsung secara periodik dengan melibatkan intelijen dan aparatur teroterial seperti dari Kodim, Koramil, dan BAIS TNI pun turut dilibatkan untuk mencari-tahu orangtuanya dan keluarganya.

Kita dalami kasus ini. Jadi Kodam Jaya selaku panitia daerah yang menerima dia pertama, kemudian BAIS (Badan Intelijen Strategis) TNI kita turunkan untuk mendalami masalah ini,” ungkap Kapuspen TNI menegaskan. (Psr)

Post a Comment

1 Comments

  1. Ibarat anak sendiri di lepas bayi beruk disusui....banyak WNI generasi muda yang cinta NKRI kok justru membanggakan " keturunan asing" yang notabene akan memegang jabatan tertinggi TNI polri nantinya... apalagi keluarga dan anak itu jelas jelas berpaham radikalisme .. HTI...dan perlu diketahui kalau sebuah"keyakinan" itu tidak akan mudah di rubah dari diri seseorang...

    Indonesia memiliki penduduk terbesar setelah China, apakah kita masih "kurang generasi muda "Calon Taruna?

    Kenapa justru bangga dengan keturunan asing kalau kita sendiri "berlebihan" calon Taruna..

    # salam , NKRI harga mati.

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan bijak dan benar sesuai dengan topik artikel yang dibahas!